Sejarah panjang Jawa tak lepas dari kejayaan Kesultanan Mataram Islam, kerajaan besar yang berdiri sejak abad ke-17. Dari kerajaan inilah kemudian lahir empat dinasti yang masih bertahan sampai sekarang: Hamengku Buwono di Yogyakarta, Paku Alam di Pakualaman, Paku Buwono di Surakarta, dan Mangkunegara di Mangkunegaran.
Semua berawal dari masa pemerintahan Amangkurat I (1646–1677). Di bawah pemerintahannya, Mataram mengalami banyak guncangan: konflik politik, pemberontakan, hingga perebutan kekuasaan di dalam keluarga kerajaan. Setelah pemberontakan besar yang dipimpin Trunajaya, pusat pemerintahan Mataram berpindah-pindah hingga akhirnya runtuh.
Perpecahan besar terjadi lewat Perjanjian Giyanti tahun 1755, yang membagi Mataram menjadi dua kekuasaan besar — Kasunanan Surakarta di bawah Sunan Paku Buwono III, dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Sultan Hamengku Buwono I. Dari sinilah, empat dinasti pewaris Mataram lahir dan berkembang.
1. Hamengku Buwono – Sang Sultan Jogja
Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri pada tahun 1755 setelah Pangeran Mangkubumi berdamai dengan VOC lewat Perjanjian Giyanti. Ia kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I, yang berarti “pemelihara dunia.”
Sejak itu, gelar Hamengku Buwono digunakan turun-temurun oleh para sultan Yogyakarta. Kini, gelar tersebut disandang oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang juga menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.
2. Paku Alam – Adipati Penyangga Yogyakarta
Kelahiran Kadipaten Pakualaman terjadi di masa pemerintahan Inggris di Jawa, tahun 1813. Setelah Keraton Yogyakarta diserbu pasukan Inggris, Pangeran Notokusumo, saudara Sultan Hamengku Buwono II, diangkat oleh Thomas Stamford Raffles sebagai penguasa baru dengan gelar Paku Alam I.
Nama Paku Alam bermakna “peneguh alam”, simbol peran penguasa sebagai penjaga keseimbangan dan harmoni. Hingga kini, gelar tersebut diwariskan kepada Paku Alam X, yang menjabat sebagai Wakil Gubernur DIY berdampingan dengan Sultan HB X.
3. Paku Buwono – Raja Kasunanan Surakarta
Keraton Surakarta Hadiningrat berdiri pada 1745 setelah kehancuran Kartasura akibat pemberontakan. Sunan Paku Buwono II memindahkan ibu kota ke Surakarta dan membangun keraton yang menjadi pusat kebudayaan Jawa hingga kini.
Setelah Perjanjian Giyanti, Surakarta menjadi kerajaan tersendiri di bawah pengaruh Belanda. Gelar Paku Buwono, yang berarti “peneguh bumi,” terus diwariskan turun-temurun. Kini, Paku Buwono XIV menjadi penerus tahta Kasunanan Solo.
4. Mangkunegara – Pangeran Pejuang yang Mandiri
Berbeda dengan tiga lainnya, Praja Mangkunegaran lahir dari perjuangan panjang Raden Mas Said melawan VOC dan Kasunanan Surakarta. Setelah perjanjian damai di Salatiga tahun 1757, ia diakui sebagai penguasa mandiri dengan gelar KGPAA Mangkunegara I.
Mangkunegaran dikenal sebagai kadipaten otonom dengan tradisi unik, termasuk bentuk tarian Bedhaya yang hanya beranggotakan tujuh penari. Kini, kepemimpinan dilanjutkan oleh KGPAA Mangkunegara X, yang memimpin dari Pura Mangkunegaran, Solo.
Warisan yang Tak Pernah Padam
Empat dinasti ini menjadi saksi hidup perjalanan panjang Mataram Islam. Meski kini tak lagi berkuasa secara politik, mereka tetap memainkan peran penting dalam menjaga warisan budaya Jawa — mulai dari upacara adat, kesenian keraton, hingga nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Empat nama besar ini — Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara — bukan hanya gelar kebangsawanan, tapi juga simbol keberlanjutan sejarah dan identitas Jawa yang masih hidup hingga hari ini.(ng*)
• sumber : dari berbagai sumber / kutiban sejarah
